Selasa, 05 Juni 2018

Sekolah untuk Berliterasi

Pendidikan merupakan sebuah modal utama setiap orang dalam mengarungi kehidupan. Dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat meraih apa yang ia cita-citakan semasa kecil. Walaupun dalam kehidupan nyata kehidupan disini dapat juga diartikan sebagai pengalaman yang dapat membuat seseorang belajar dari sebuah peristiwa yang dialami seseorang tersebut. Dalam perkembangan dunia pendidikan saat ini, tentunya kita dapat merasakannya sendiri sebagai seorang pelajar terlebih saya yang notabene adalah seorang mahasiswa yang artinya saya telah merasakan dunia pendidikan dari berbagai tingkat pendidikan. Dalam perkembangannya, dunia pendidikan di Indonesia sendiri mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan secara aktif melakukan pergantian kurikulum yang sejalan dengan pergantian pak menteri pendidikan. Perubahan kurikulum ini juga turut membuat sistem pembelajarannya ikut berubah. Oleh karena itu,  yang dapat kita lakukan adalah menilai sejauh mana keefektifan suatu sistem pembelajaran setelah kurikulumnya berubah. Hal inilah yang mendasari saya untuk mencoba membahas tentang perkembangan dunia pendidikan formal dibawah naungan Kementerian Pendidikan negara Indonesia.  

Kita semua tahu bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang akademik. Terbukti dari berbagai perlombaan internasional yang diikuti oleh siswa-siswa Indonesia, kita mampu menyabet gelar juara dan dapat bersaing dengan negara lain yang jauh lebih maju dari negara kita. Hal ini membuktikan bahwa sistem pembelajaran kita memiliki tingkat keefektifan yang baik jika dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Lantas mengapa dalam prakteknya sistem pembelajaran yang ditawarkan oleh kurikulum kita malah justru berdampak kebalikannya ? tentunya kita tahu dalam pembelajaran pada sekolah dari tingkat SD sampai SMA kita diberi mata pelajaran yang selalu meningkat jumlahnya ketika kita berpindah jenjang. Berbeda  dengan sekolah-sekolah di negara-negara maju yang memberikan kepada para siswanya mata pelajaran yang jauh lebih sedikit daripada sekolah kita. Hal itulah yang merupakan salah satu penyebab dari ketidakefektifannya sistem pembelajaran di sekolah kita. Banyaknya mata pelajaran yang dibebankan kepada siswa menyebabkan siswa pun merasa terbebani secara psikologi. Ditambah lagi dengan pelajaran yang melulu menggunakan metode klasik seperti ceramah dan hafalan menyebabkan siswa akan semakin tertekan. Penggunaan metode pembelajaran klasik memang dapat menyampaikan materi pelajaran yang lebih banyak, tetapi imbasnya siswa tidak dapat belajar secara bermakna dalam jangka pendek dan tidak tahu sebenarnya untuk apa siswa diajari materi pelajaran tersebut di masa yang akan datang.

Literasi sains, merupakan sebuah kata yang mungkin asing bagi kita semua. Saya pun juga baru mengetahuinya dari dosen saya di perkuliahan. Dalam arti sempit, literasi sains adalah sebuah  kemampuan untuk menghubungkan materi yang kita peroleh di sekolah dengan lingkungan yang sebenarnya. Artinya kita semua diajak untuk berfikir secara real/nyata mengenai materi yang disampaikan oleh bapak/ibu guru di sekolahan. Memang, untuk menumbuhkan kemampuan berliterasi memerlukan waktu yang lama. Namun, jika seorang guru menerapkan metode pembelajaran dengan mengajak siswanya untuk berliterasi dalam pelajarannya, lama-kelamaan siswa akan terlatih kemampuan literasinya sehingga siswa dapat menyerap materi dengan baik dan pembelajarannya akan jauh lebih bermakna. Jika metode penumbuhan literasi sains terhadap pelajaran di sekolah dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh guru dalam suatu sekolah, maka hasilnya akan mejadikan semua pembelajaran di sekolah tersebut akan lebih efektif dan lebih efisien. Penumbuhan kemampuan berliterasi sains ini dapat berlangsung apabila guru yang bersangkutan juga memiliki kemampuan literasi yang baik. Ya, untuk menyampaikan sebuah materi  saja guru harus menguasai materi tersebut, apalagi untuk menumbuhkan kemampuan berliterasi sains pada siswa, guru harus memiliki kemampuan literasi sains yang baik. Lantas apakah kemampuan berliterasi sains dapat diterapkan untuk mata pelajaran selain dari mata pelajaran sains ? jawabannya adalah bisa. Mengapa ? pada dasarnya semua ilmu memiliki hubungan keterkaitan dari satu ilmu dengan ilmu yang lain. Intinya kemampuan berliterasi digunakan untuk menghubungkan sebuah teori dengan keadaan lingkungan nyata, sehingga ilmu yang kita dapat dari sekolah tidak terkesan sia-sia karena tidak tahu sebenarnya ilmu itu digunakan untuk apa dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menumbuhkan kemampuan berliterasi sains pada siswa, ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru. Salah satunya adalah menggunakan metode-metode pembelajaran yang dapat memunculkan kemampuan literasi siswa. Menurut  Fajri Basam Dkk., penggunaan perangkat pembelajaran berbasis literasi sains juga sangatlah penting untuk menjadi stimulus dalam meningkatkan kompetensi sains siswa. Melalui perangkat pembelajaran berbasis literasi sains, siswa menjadi terbiasa menggunakan pengetahuannya untuk kepentingan kehidupan sehari-hari. Ada beberapa metode pembelajaran yang berbasis literasi sains yang dapat digunakan guru dalam pembelajarannya. Seperti metode pembelajaran saintifik yang dikemukakan oleh Ardian Asyhari , kemampuan literasi sains siswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran saintifik. Pembelajaran ini dapat diterapkan untuk merangsang ketertarikan siswa kepada isu ilmiah, meningkatkan inkuiri ilmiah, dan mendorong rasa tanggung jawab siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Kemudian metode pembelajaran yang lain seperti inquiri sederhana, Fitriana Dkk, mengungkapkan bahwa Pembelajaran berbasis inquiri sederhana adalah salah satu pembelajaran yang bisa membantu guru untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan literasi sains siswa, yang berkaitan tentang pemahaman konsep siswa terhadap materi yang disampaikan guru, proses sains dalam memecahkan permasalahan secara ilmiah, dan mengaplikasikan sains kedalam kehidupan sehari-hari. Pada penelitiannya juga didapatkan kesimpulan bahwa Terdapat perbedaan peningkatan literasi sains siswa yang signifikan antara kelas yang menerapan pembelajaran berbasis inquiri sederhana dan kelas yang tidak menerapkanpembelajaran berbasis inquiri sederhana. M. K. Arief dan  S. Utari  juga mengemukakan hal senada dengan menggunakan metode inquiri pengetahuan konten, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan epistemik meningkat secara signifikan. Desi Novita Anggun Sari Dkk, dalam penelitiannya mengungkapkan kemampuan literasi sains siswa yang memperoleh pembelajaran proyek berbantuan modul bermuatan literasi sains lebih baik dibandingkan siswa yang memperoleh pembelajaran ceramah disertai percobaan dan menggunakan bahan ajar yang biasa digunakan di sekolah.  Artinya, metode pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan literasi sains pada siswa. Dengan kata lain kemampuan literasi sains dapat ditingkatkan melalui metode pembelajaran yang mendukung terbentuknya sikap literasi sains pada siswa. 

Banyaknya cara untuk memunculkan sikap literasi sains pada siswa membuat beberapa pengembangan-pengembangan metode pembelajaran terus dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh Robi’atul Adawiyah dan Asih Widi Wisudawati yang mengembangkan instrumen tes yang berbasis literasi yang hasilnya yaitu materi lebih mudah untuk dipahami.  Usmeldi dalam peneletiannya juga mengembangkan Modul Pembelajaran Berbasis Riset dengan Pendekatan Scientific untuk Meningkatkan Literasi Sains. Hasil dari penelitiannya menghasilkan modul pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan literasi sains peserta didik yang menunjukkan adanya peningkatan pada setiap pertemuan. Usmeldi juga menyarankan agar para guru menggunakan modul yang dikembangkannya ini. Dengan adanya pengembangan-pengembangan metode dalam peningkatan literasi sains pada siswa diharapkan para guru lebih terbantu dalam upaya peningkatan literasi pada siswa. Kemampuan berliterasi ini sangat penting untuk ditingkatkan pada siswa, agar nantinya siswa dapat menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, para guru diharuskan untuk mengikuti perkembangan sehingga kemampuan literasi siswa dapat ditumbuhkan. 

Kritik dan saran anda dibutuhkan untuk menjadikan artikel selanjutnya lebih baik. Silahkan tuliskan komentar anda mengenai artikel ini di kolom komentar. Sekian dan terimakasih.










DAFTAR PUSTAKA

 Adawiyah, R., & Wisudawati, A. W. (2017). Indonesian Journal of Curriculum Pengembangan Instrumen Tes Berbasis Literasi Sains : Menilai Pemahaman Fenomena Ilmiah Mengenai Energi, 5(2), 112–121.

Arief, M. K., & Utari, S. (2015). Implementation of Levels of Inquiry on Science Learning To Improve Junior High School Student ’ S Scientific Literacy Penerapan Levels of Inquiry Pada Pembelajaran Ipa, 11(2), 117–125.

Asyhari, A. (2015). Profil Peningkatan Kemampuan Literasi Sains Siswa Melalui Pembelajaran Saintifik. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 4(2), 179. https://doi.org/10.24042/jpifalbiruni.v4i2.91

Basam, F., Rusilowati, A., & Ridlo, S. (2018). Profil Kompetensi Sains Siswa dalam Pembelajaran Literasi Sains Berpendekatan Inkuiri Saintifik. PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 3(1), 1-8.

Fitriana, F., Lesmanawati, I. R., & Maknun, D. (2014). PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS INQUIRI SEDERHANA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA PADA KONSEP EKOSISTEM DI KELAS X MA KHAS KEMPEK CIREBON. Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains, 3(1).

Sari, N. D. A., Rusilowati, A., & Nuswowati, M. (2017). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek terhadap Kemampuan Literasi Sains Siswa. Pancasakti Science Education Journal, 2, 114–124.

Usmeldi. (2016). Pengembangan Modul Pembelajaran Fisika Berbasis Riset dengan Pendekatan Scientific untuk Meningkatkan Literasi Sains Peserta Didik. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Fisika, 2(1), 1–8. https://doi.org/10.21009/1.02101

Rabu, 23 Mei 2018

Sekolah Versus Bimbingan Belajar

Pendidikan merupakan sesuatu hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap individu. pendidikan yang tinggi juga merupakan sebuah salah satu tolak ukur kemajuan suatu negara. Di negara berkembang, tidak semua masyarakatnya peduli dengan tingkat pendidikan minimal yang harus dicapai untuk setiap individu. hal semacam ini biasa terjadi pada masyarakat di negara berkembang. Permasalahan yang timbul tersebut terjadi disebabkan karena pola pikir dari masyarakat itu sendiri yang didukung dengan kondisi lingkungan pada negara berkembang itu sendiri. Berbeda dengan keadaan di negara maju, pendidikan di negara maju sangat diperhatikan baik dari pihak pemerintahnya maupun dari masyarakatnya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di negara maju sangat menyadari dengan pendidikan yang tinggi akan sangat berpengaruh dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Dengan pendidikan yang tinggi dari masyarakat yang tinggal pada suatu negara akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam negara tersebut. Jika kualitas sumber daya manusia pada suatu negara tinggi, maka akan membuat negara tersebut menjadi mandiri untuk membangun negaranya sendiri.

Permasalahan pada negara berkembang tadi yang telah dijelaskan diatas jika kita amati,terjadi juga di negara kita Indonesiatercinta. Kita pasti sering mendengar atau mengalaminya sendiri ketika terjadi pergantian di dalam kabinet terkhusus pada menteri pendidikan, pasti akan membuat sebuah kurikulum pendidikan yang harus diterapkan pada seluruh sekolah yang ada di negeri ini. Tentunya kita yang berada di dalam sekolah mulai dari guru, sampai siswanya pun bingung dengan kurikulum pendidikan di sekolahnya. Padahal keberhasilan suatu kurikulum pendidikan tidak bisa dilihat secara langsung dalam jangka waktu yang singkat. Butuh waktu yang lama untuk mengetahui apakah sebuah kurikulum pendidikan dikatakan berhasil dalam menciptakan pendidikan yang efektif untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pergantian kurikulum pendidikan dalam periode yang singkat inilah yang membuat pendidikan di Indonesia masih dikatakan belum bagus.Nyatanya dengan pergantian kurikulum pendidikan tidak membuat masalah selesai. Masalah seperti ketidakjujuran saat ujian pun masih sering  terjadi.

Kita tidak akan membahas apa yang ada di dalam kurikulum pendidikan itu sendiri tetapi kita akan membahas tentang penerapan kurikulum pendidikan dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah.Apakah sudah maksimal atau belum dengan adanya pergantian kurikulum pendidikan yang dibarengi setiap pergantian menteri pendidikan ? jika kita bandingkan dengan proses pembelajaran di luar pembelajaran di sekolah seperti yang diterapkan pada lembaga-lembaga bimbingan belajar, mengapa lebih efektif pembelajarannya dibandingkan dengan pembelajaran di sekolah ? padahal setiap lembaga bimbingan belajar pun dalam menyampaikan materi saat proses pembelajaran mengacu pada kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah. Apakah ada yang salah dengan sistem pembelajaran yang diterapkan pada sekolah ? permasalahan ini sering kita lihat dan juga kita alami sendiri. Jika kita amati dan kita rasakan mengapa permasalahan itu muncul pada saat proses pembelajaran yang kita alami yakni sewaktu masih menempuh sekolah dasar (SD)  sampai sekolah menengah atas (SMA).

Pada sistem pembelajaran yang diterapkan pada sekolah tidak sama dengan sistem pembelajaran yang diterapkan pada lembaga bimbingan belajar. Pada proses pembelajaran yang diterapkan pada sekolah bergantung dari cara penyampaian dari masing-masing guru yang mengajar. Dengan kata lain cara penyampaian materi di sekolah berbeda-beda. Perbedaan cara penyampaian materi oleh setiap guru akan menimbulkan perbedaan dalam penyerapan materi oleh siswa. Seringkali siswa merasa terbebani dengan salah satu pelajaran yang dianggap membosankan karena cara penyampaian guru yang tidak menarik dan cenderung monoton. Berbeda apa yang dilakukan pada lembaga bimbingan belajar, cara penyampaian materiyang digunakan oleh setiap tutornya disamakan. Dengan menggunakan bahasa yang santai dan mengenali karakter dari setiap siswa, para tutor menyampaikan materinya dengan menarik. Tak jarang para tutor juga memberikan motivasi kepada para siswa yang dapat mendorong kepercayaan diri siswa dan semangat belajar siswa.  Walaupun hal yang diterapkan pada lembaga bimbingan belajar tersebut diterapkan juga oleh guru pada siswa ketika proses pembelajaran di sekolah, nyatanya tidak semua guru menerapkan cara penyampaian ini. Hanya sebagian kecil guru yang menerapkan cara tersebut. Akibatnya hanya beberapa mata pelajaran saja di sekolah yang pembelajarannya berjalan efektif. Padahal menurut Retno Palupi dkksemakin tinggi motivasi belajar siswa dan kinerja guru dalam kegiatan belajar siswa, akan diikuti pula tingginya hasil belajar siswa. sebaliknya apabila terjadi penurunan motivasi belajar siswa dankinerja guru dalam kegiatan belajar akan diikuti pula rendahnya Hasil belajar yang dicapai.

Cara penyampaian yang santai digunakan para tutor lembaga bimbingan belajar dimaksudkan agar para siswa merasa nyaman. Kondisi yang nyaman inilah yang menyebabkan para siswa lembaga bimbingan belajar  dapat memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh para tutornya.  Dengan mengenali karakter dari setiap siswa, pemberian motivasi kepada para siswa yang dilakukan oleh para tutor lembaga bimbingan belajar juga meningkatkan semangat belajar para siswa. Cara penyampaian dan sistem pembelajaran yang seperti ini lebih menarik di mata para siswa  dan memberikan kesan yang menyenangkan terhadap materi pelajaran. Kondisi seperti inilah yang menjadikan proses pembelajaran pada lembaga bimbingan belajar lebih efektif. Hal yang sama juga diungkapkan pada penelitian oleh Ghullam Hamdu dan penelitian oleh Mar’atur Rafiqah yang menyebutkan terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar pada siswa.

Alternatif lain untuk para guru di sekolah agar pembelajarannya dapat diterima oleh siswanya dengan efektif yakni dengan menggunakan metode-metode kreatif agar menarik para siswa sehingga akan memudahkan dalam memahami sebuah materi pelajaran. Menurut N. Imamah Penerapan metode kooperatif berbasis konstruktivisme yang dipadukan dengan video animasi dalam pembelajaran meningkatkan pe-nguasaan kompetensi dasar.Juga disampaikan oleh M. Rohwatibahwa Education Game baik secara teori maupun empirik dalam pembelajaran da­pat meningkatkan hasil belajar.Menerapkan pembelajaran teman sebaya juga dapat digunakan ketika guru memiliki kendala dalam menyampaikan materi pelajaran yang banyak tetapi hanya memiliki waktu yang terbatas. Hal itu juga diungkapkan Ritaningsih yakni kegiatan tutor sebaya dalam pembelajaran remedial dapat Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa.Dengan menggunakan metode-metode yang menarik para siswa menjadikan motivasi para siswa bertambah dalam belajar dan kemampuan menyerap materi pun dapat meningkat. Sehingga dapat diperoleh pembelajaran yang efektif. Menurut J. Handhika Siswa yang memiliki motivasi tinggi, menggunakan media apapun akan menghasilkan hasil baik. Kemudian kemampuan literasi sains siswa yang memperoleh pembelajaran proyek berbantuan modul bermuatan literasi sains lebih baik dibandingkan siswa yang memperoleh pembelajaran ceramah disertai percobaan dan menggunakan bahan ajar yang biasa digunakan di sekolah  menurut Desi Novita Anggun Sari dkk.Pembelajaran yang seperti ini akan membuat para siswa dapat menyerap materi yang disampaikan secara efektif.



Daftar Pustaka

Hamdu, G., &Agustina, L. (2011).Pengaruhmotivasibelajarsiswaterhadapprestasibelajar IPA di sekolahdasar.Jurnalpenelitianpendidikan, 12(1), 90-96.

Handhika, J. (2012). Efektivitas media pembelajaran IM3 ditinjaudarimotivasibelajar.JurnalPendidikan IPA Indonesia, 1(2).

Imamah, N. (2012). PeningkatanHasilBelajar IPA MelaluiPembelajaranKooperatifBerbasisKonstruktivismeDipadukanDengan Video AnimasiMateriSistemKehidupanTumbuhan.JurnalPendidikan IPA Indonesia, 1(1).

Palupi, R. (2014). Hubungan Antara Motivasi Belajar Dan Persepsi Siswa Terhadap Kinerja Guru Dalam Mengelola Kegiatan Belajar Dengan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII Di SMPN N 1 Pacitan. Jurnal Teknologi Pendidikan dan Pembelajaran, 2(2).

Rafiqah, Mar’atur, Under Guidance of YusmansyahdanShinta Maryasari.2013.Pengaruh MotivasiBelajarTerhadapPrestasiBelajar. JurnalElektronikIlmuPendidikan 2(2).Diaksespada 23 Desember2015(http://jurnal.fkip.unila.ac.id//index.php/ALIB/aeticle/view/1661)

Ritaningsih, R. (2017). UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI KEGIATAN TUTOR SEBAYA DALAM PENGAJARAN REMEDIAL MATERI GETARAN DAN GELOMBANG DI KELAS VIII C SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 1 PANGKAH KABUPATEN TEGAL. PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 2(1).

Rohwati, M. (2012).Penggunaan education game untukmeningkatkanhasilbelajar IPA biologikonsepklasifikasimakhlukhidup. JurnalPendidikan IPA Indonesia, 1(1).

Sari, D. N. A., Rusilowati, A., &Nuswowati, M. (2017).PengaruhPembelajaranBerbasisProyekterhadapKemampuanLiterasiSainsSiswa. PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 2(2), 114-124.

Suranto, S. (2015). PENGARUH MOTIVASI, SUASANA LINGKUNGAN DAN SARANA PRASARANA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA (STUDI KASUS PADA SMA KHUSUS PUTRI SMA ISLAM DIPONEGORO SURAKARTA). JurnalPendidikanIlmuSosial, 25(2), 11-19.

Tamardiyah, N. D. (2017). MinatKedisiplinandanKetekunanBelajarterhadapMotivasiBerprestasidanDampaknyapadaHasilBelajarMatematika SMP.ManajemenPendidikan, 12(1), 26-37.