Pendidikan merupakan sesuatu hal
yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap individu. pendidikan yang
tinggi juga merupakan sebuah salah satu tolak ukur kemajuan suatu negara. Di
negara berkembang, tidak semua masyarakatnya peduli dengan tingkat pendidikan
minimal yang harus dicapai untuk setiap individu. hal semacam ini biasa terjadi
pada masyarakat di negara berkembang. Permasalahan yang timbul tersebut terjadi
disebabkan karena pola pikir dari masyarakat itu sendiri yang didukung dengan
kondisi lingkungan pada negara berkembang itu sendiri. Berbeda dengan keadaan
di negara maju, pendidikan di negara maju sangat diperhatikan baik dari pihak
pemerintahnya maupun dari masyarakatnya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat
di negara maju sangat menyadari dengan pendidikan yang tinggi akan sangat
berpengaruh dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Dengan pendidikan yang
tinggi dari masyarakat yang tinggal pada suatu negara akan meningkatkan
kualitas sumber daya manusia dalam negara tersebut. Jika kualitas sumber daya
manusia pada suatu negara tinggi, maka akan membuat negara tersebut menjadi
mandiri untuk membangun negaranya sendiri.
Permasalahan pada negara berkembang tadi yang telah dijelaskan diatas jika kita amati,terjadi juga di negara kita Indonesiatercinta. Kita pasti sering mendengar atau mengalaminya sendiri ketika terjadi pergantian di dalam kabinet terkhusus pada menteri pendidikan, pasti akan membuat sebuah kurikulum pendidikan yang harus diterapkan pada seluruh sekolah yang ada di negeri ini. Tentunya kita yang berada di dalam sekolah mulai dari guru, sampai siswanya pun bingung dengan kurikulum pendidikan di sekolahnya. Padahal keberhasilan suatu kurikulum pendidikan tidak bisa dilihat secara langsung dalam jangka waktu yang singkat. Butuh waktu yang lama untuk mengetahui apakah sebuah kurikulum pendidikan dikatakan berhasil dalam menciptakan pendidikan yang efektif untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pergantian kurikulum pendidikan dalam periode yang singkat inilah yang membuat pendidikan di Indonesia masih dikatakan belum bagus.Nyatanya dengan pergantian kurikulum pendidikan tidak membuat masalah selesai. Masalah seperti ketidakjujuran saat ujian pun masih sering terjadi.
Kita tidak akan membahas apa yang ada di dalam kurikulum pendidikan itu sendiri tetapi kita akan membahas tentang penerapan kurikulum pendidikan dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah.Apakah sudah maksimal atau belum dengan adanya pergantian kurikulum pendidikan yang dibarengi setiap pergantian menteri pendidikan ? jika kita bandingkan dengan proses pembelajaran di luar pembelajaran di sekolah seperti yang diterapkan pada lembaga-lembaga bimbingan belajar, mengapa lebih efektif pembelajarannya dibandingkan dengan pembelajaran di sekolah ? padahal setiap lembaga bimbingan belajar pun dalam menyampaikan materi saat proses pembelajaran mengacu pada kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah. Apakah ada yang salah dengan sistem pembelajaran yang diterapkan pada sekolah ? permasalahan ini sering kita lihat dan juga kita alami sendiri. Jika kita amati dan kita rasakan mengapa permasalahan itu muncul pada saat proses pembelajaran yang kita alami yakni sewaktu masih menempuh sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA).
Pada sistem pembelajaran yang diterapkan pada sekolah tidak sama dengan sistem pembelajaran yang diterapkan pada lembaga bimbingan belajar. Pada proses pembelajaran yang diterapkan pada sekolah bergantung dari cara penyampaian dari masing-masing guru yang mengajar. Dengan kata lain cara penyampaian materi di sekolah berbeda-beda. Perbedaan cara penyampaian materi oleh setiap guru akan menimbulkan perbedaan dalam penyerapan materi oleh siswa. Seringkali siswa merasa terbebani dengan salah satu pelajaran yang dianggap membosankan karena cara penyampaian guru yang tidak menarik dan cenderung monoton. Berbeda apa yang dilakukan pada lembaga bimbingan belajar, cara penyampaian materiyang digunakan oleh setiap tutornya disamakan. Dengan menggunakan bahasa yang santai dan mengenali karakter dari setiap siswa, para tutor menyampaikan materinya dengan menarik. Tak jarang para tutor juga memberikan motivasi kepada para siswa yang dapat mendorong kepercayaan diri siswa dan semangat belajar siswa. Walaupun hal yang diterapkan pada lembaga bimbingan belajar tersebut diterapkan juga oleh guru pada siswa ketika proses pembelajaran di sekolah, nyatanya tidak semua guru menerapkan cara penyampaian ini. Hanya sebagian kecil guru yang menerapkan cara tersebut. Akibatnya hanya beberapa mata pelajaran saja di sekolah yang pembelajarannya berjalan efektif. Padahal menurut Retno Palupi dkksemakin tinggi motivasi belajar siswa dan kinerja guru dalam kegiatan belajar siswa, akan diikuti pula tingginya hasil belajar siswa. sebaliknya apabila terjadi penurunan motivasi belajar siswa dankinerja guru dalam kegiatan belajar akan diikuti pula rendahnya Hasil belajar yang dicapai.
Cara penyampaian yang santai digunakan para tutor lembaga bimbingan belajar dimaksudkan agar para siswa merasa nyaman. Kondisi yang nyaman inilah yang menyebabkan para siswa lembaga bimbingan belajar dapat memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh para tutornya. Dengan mengenali karakter dari setiap siswa, pemberian motivasi kepada para siswa yang dilakukan oleh para tutor lembaga bimbingan belajar juga meningkatkan semangat belajar para siswa. Cara penyampaian dan sistem pembelajaran yang seperti ini lebih menarik di mata para siswa dan memberikan kesan yang menyenangkan terhadap materi pelajaran. Kondisi seperti inilah yang menjadikan proses pembelajaran pada lembaga bimbingan belajar lebih efektif. Hal yang sama juga diungkapkan pada penelitian oleh Ghullam Hamdu dan penelitian oleh Mar’atur Rafiqah yang menyebutkan terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar pada siswa.
Daftar Pustaka
Hamdu, G., &Agustina, L.
(2011).Pengaruhmotivasibelajarsiswaterhadapprestasibelajar IPA di
sekolahdasar.Jurnalpenelitianpendidikan, 12(1), 90-96.
Handhika, J. (2012). Efektivitas media
pembelajaran IM3 ditinjaudarimotivasibelajar.JurnalPendidikan IPA Indonesia,
1(2).
Imamah, N. (2012). PeningkatanHasilBelajar IPA
MelaluiPembelajaranKooperatifBerbasisKonstruktivismeDipadukanDengan Video
AnimasiMateriSistemKehidupanTumbuhan.JurnalPendidikan IPA Indonesia, 1(1).
Palupi, R. (2014). Hubungan
Antara Motivasi Belajar Dan Persepsi Siswa Terhadap Kinerja Guru Dalam
Mengelola Kegiatan Belajar Dengan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII Di SMPN N
1 Pacitan. Jurnal Teknologi Pendidikan dan Pembelajaran, 2(2).
Rafiqah, Mar’atur, Under Guidance of
YusmansyahdanShinta Maryasari.2013.Pengaruh
MotivasiBelajarTerhadapPrestasiBelajar. JurnalElektronikIlmuPendidikan
2(2).Diaksespada 23 Desember2015(http://jurnal.fkip.unila.ac.id//index.php/ALIB/aeticle/view/1661)
Ritaningsih, R. (2017). UPAYA MENINGKATKAN
MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI KEGIATAN TUTOR SEBAYA DALAM PENGAJARAN
REMEDIAL MATERI GETARAN DAN GELOMBANG DI KELAS VIII C SEMESTER GENAP TAHUN
PELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 1 PANGKAH KABUPATEN TEGAL. PSEJ (Pancasakti
Science Education Journal), 2(1).
Rohwati, M. (2012).Penggunaan education game
untukmeningkatkanhasilbelajar IPA biologikonsepklasifikasimakhlukhidup.
JurnalPendidikan IPA Indonesia, 1(1).
Sari, D. N. A., Rusilowati, A., &Nuswowati,
M.
(2017).PengaruhPembelajaranBerbasisProyekterhadapKemampuanLiterasiSainsSiswa.
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 2(2), 114-124.
Suranto, S. (2015). PENGARUH MOTIVASI, SUASANA
LINGKUNGAN DAN SARANA PRASARANA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA (STUDI
KASUS PADA SMA KHUSUS PUTRI SMA ISLAM DIPONEGORO SURAKARTA).
JurnalPendidikanIlmuSosial, 25(2), 11-19.
Tamardiyah, N. D. (2017). MinatKedisiplinandanKetekunanBelajarterhadapMotivasiBerprestasidanDampaknyapadaHasilBelajarMatematika SMP.ManajemenPendidikan, 12(1), 26-37.